Minggu, 02 Januari 2011

JUJUR ITU LEBIH INDAH

oleh Hani Syaura Abana pada 27 Desember 2010

 Sore itu, tak henti ku pikirkan perkataan temanku disekolah.


“Entah mengapa sahabatku tak menyukainya !”


Pikirku sembari termenung diteras rumah. Pacarku adalah adik kelasku, aku sadar akan hal itu. Tapi apakah itu semua tidak wajar?. Banyak orang berkata cinta bukan tentang siapa yang kau cintai, tetapi tentang perasaan yang kau rasakan. Ku pikir itu memang benar, tetapi mengapa masalah yang ku hadapi tentang cinta ini begitu rumit.


“hey, Sabrina jangan melamun saja menyapulah yang bersih!!” teriak ibuku.


                “Aku sungguh tak menyukai jika ada seorang wanita yang mempunyai pacar adik kelas!!”.


Begitu ucapan Mira yang selalu aku ingat jelas-jelas di kepalaku. Dan sedangkan aku, pacarku sendiri adalah adik kelas. Bagaimana jika Mira mengetahui tentang hal ini. Aku sungguh tidak bisa membayangkannya. Mira adalah sahabat baikku, dan jika Mira tau hal itu aku tidak tahu apakah aku masih sahabat baiknya atau bukan.


                Hari terus berlalu, aku pun terus menjalin hubungan ku dengan pacarku tanpa sepengetahuan Mira. Sangat sulit bagiku menjalani semua ini, di satu sisi aku menyayangi pacarku dan di sisi lain aku pun sangat menyayangi Mira sahabatku. Aku tak ingin mengacewakannya. Tapi, aku belum siap dan belum cukup berani untuk berkata jujur kepada Mira tentang semua ini.


                Terkadang aku merasa sangat sedih, setiap hari di sekolah aku harus mendengar Mira bercerita tentang ketidaksukaanya kepada seorang wanita yang mempunyai pacar adik kelas ataupun yang umurnya lebih muda.


“Hey, kau tidak seperti itu kan Sabrina?”. Tanya Mira kepadaku.


“I..iyaa”. Jawabku gugup.


Dengan sangat terpaksa aku berbohong. Karena aku sendiri, sahabatnya adalah seorang wanita yang selalu tidak disukainya. Jika ingat hal itu, aku benar-benar tidak sanggup untuk jujur kepada Mira.


                Akhirnya dalam hati ini timbul rasa penyesalanku. Penyesalanku yang telah menyayanginya.


“Maafkan aku” .


Selalu itu yang ingin ku ucapkan kepada Mira. Maafkan aku karena telah melakukan sesuatu yang sangat tidak kau sukai. Menyesal, aku sungguh menyesal telah menyayangimu Rudi. Rudi adalah nama pacarku.


Mengapa dulu aku harus mengenalmu, jika perkenalan itu hanya akan membuat masalah antara aku dan sahabatku. Aku sungguh tidak bisa memilih, aku menyayangimu dan juga sahabatku.


                Semua ini berawal dari perkenalan itu. Saat itu, aku akan pergi menonton di bioskop bersama seorang sahabatku. Tanpa ku tahu ternyata sahabatku membawa temanya, temanya itu adalah Rudi, yang sekarang adalah pacarku. Dari sana aku berkenalan dengannya.


                Semakin hari aku semakin dekat saja dengannya. Dari awal aku memang sudah tahu bahwa dia adalah adik kelasku, dan memang tidak pernah terfikir olehku untuk menjadikannya seseorang yang ku sayangi. Selalu ku ingatkan hatiku untuk tidak menyayanginya lebih dalam, karena dia adalah adik kelasku.


                Ternyata perasaan itu datang, aku pun tak kuasa untuk menolaknya. Meskipun dari awal selalu ku ingatkan hatiku agar tidak menerima perasaan itu. Tetapi kebersamaan dan kebiasaan yang telah mengalahkan hatiku. Akhirnya aku pun menyayanginya. Kami pun sepakat untuk berpacaran.


                Awalnya Rudi tidak mengetahui bahwa ada sahabat dekatku yang tidak menyetujui hubungan kami. Tetapi lama-lama aku tidak dapat menyembunyikan lagi hal itu kepada Rudi. Rudi tampak begitu marah, karena aku begitu mempedulikan perkataan dan perasaan temanku yang tidak menyetujui hubungan kami.


“Semua ini adalah kita yang menjalani”. Begitu kata Rudi.


Aku mencoba jelaskan semuanya kepada Rudi. Dan akhirnya ia mau mengerti. Kami pun menjalin hubungan tanpa sepengetahuan sahabatku Mira. Karena aku sangat yakin jika Mira mengetahui hubungan aku dengan Rudi, dia pasti idak akan menyetujiui hubungan aku dengan Rudi.


                Semakin lama, aku semakin takut untuk berterus terang tentang semuanya kepada Mira.  Aku merasakan ada kecurigaan pada diri Mira kepadaku. Aku seperti biasa selalu tetapa menutupi semuanya dan merasa seperti tidak ada apa-apa saja.


                Aku tak menyangka tiba-tiba di sekolah hari itu, Mira bertanya kepadaku tentang Rudi .


Aku sangat terkejut dan takut jika Mira telah mengetahiu hubunganku dengan Rudi.


“Sab, apakah kau mengenal Rudi?”. Tanya Mira padaku.


Seperti biasa ku jawab dengan gugup karena rasa takutku.


“I…iyaa Mir, kenapa memangnya?”.


“Kau tidak sedang dekat denganya bukan Sab?”. Tanya Mira lagi.


“aahh tidak !! ada-ada saja, dia kan adik kelas qta, mana mungkin aku dekat dengannya”.


Jawabku dengan rasa bersalah yang ku simpan dihati.


                Aku pulang ke rumah dengan semua perasaanku yang sudah tak karuan.


Aku mulai bingung memikirkan bagaimana cara mengakhiri semua sandiwara ku kepada Mira. Aku sungguh sudah tak sanggup lagi berbohong kepada Mira. Aku menangis dalam kebingungan dan semua rasa bersalahku kepada sahabatku Mira.


                Sekian lama aku menutupi semuanya. Aku mulai sadar bahwa semua sandiwaraku ini harus segera ku akhiri. Dan aku yakin, kapanpun walaupun aku coba untuk terus menutupi semuanya, semuanya pasti akan terungkap juga. Dan lebih baik jika aku yang jujur berterus terang kepada Mira. Karena mungkin jika aku jujur, Mira pasti tidak akan tega menjauhiku dan tidak mau mengganggap ku sahabatnya lagi hanya karena masalah ini. Bahkan jika Mira memang tidak bisa menerima hubunganku dengan Rudi, lebih baik aku melupakan Rudi dan memilih membela sahabatku yang telah lebih dulu bersama-sama denganku, yang telah lebih dulu mengenalku dibanding dengan Rudi.


                Malam sungguh ku tak bisa berhenti memikirkan semua ini. Aku tidak tahu harus memulai dari mana untuk ku jujur kepada Mira. Oh.. Tuhan bantulah aku.


                Aku mulai memberanikan diri untuk jujur kepada Mira. Pertama, aku mulai menjauhi Rudi. Sikapku mulai berubah kepada Rudi, dan nampaknya Rudi menyadari hal itu. Rudi tentu saja langsung bertanya kepadaku mengenai perubahan sikapku kepadanya. Belum sempat aku jelaskan semuanya yang akan ku lakukan kepada Mira, tentang aku yang akan berterus terang kepada Mira, Rudi sudah bisa menebak apa alasan sikapku berubah kepadanya. Ia marah kepadaku, bahkan ia sempat meminta untuk bertemu dengan Mira dan meminta izin kepada Mira tentang hubungan kami. Tetapi, tentu saja aku melarangnya bertemu dengan Mira. Aku masih takut Mira tidak akan begitu saja menyetujui hubunganku dengan Rudi.


                Aku sungguh tak mengerti mengapa begitu sulit untuk melakukan hal itu. Melakukan satu kata itu, jujur. Begitu sulit bagiku untuk jujur kepada Mira, aku sungguh takut jika karena jujurku itu aku kehilangan sahabatku Mira, sahabat baikku sejak smp. Aku benar-benar berat untuk memililih diantara Sahabatku Mira ataukah pacarku Rudi.


                Saat disekolah, aku putuskan untuk berterus terang kepada Mira mengenai hubunganku dengan Rudi.


“Mir, aku ingin berbicara denganmu”. Aku berkata kepada Mira.


“Ada apa Sabrina?, tumben sepertinya ada yang penting”. Jawab Mira padaku.


“Be..begini Mir,”. Aku sungguh gugup


“Ada apa Sab, bicaralah”. Kata Mira sambil memegang tanganku dan menatapku dengan penasaran.


“Hmmm.. PR matematika sudah mengerjakan?”. Ku alihkan pembicaraan, sungguh karena aku belum berani jujur. Dalam hatiku berkata “Maafkan aku Mira.”


“haahaha… ku fikir kau akan bicara apa Sab, ada-ada saja”. Jawabya Mira sambil tertawa melihat mukaku yang mingkin pada saat itu sungguh tak karuan bentuknya.


Dan akhirnya, aku belum berhasil juga untuk jujur kepada Mira.


                Aku sudah pusing dengan keadaan ini Tuhan. Aku sudah tidak mau sembunyi-sembunyi lagi menjalani hubunganku dengan Rudi. Ohh.. Mira, apakah begitu aneh bagimu jika ada wanita yang mempunyai pasangan yang lebih muda darinya. Dan aku sahabatmu, aku seperti itu Mira. Aku mohon ubahlah pandanganmu tentang hal itu kawan. Aku sangat menyayangimu dan juga menyayangi pacarku.


                Aku sudah tidak peduli lagi, aku memang tidak berani jujur kepada Mira, tetapi aku mencoba menjalani semuanya biasa saja. Tidak ada yang aku sembuyikan. Aku sudah mulai berani sms kepada Rudi didepan Mira. Bahkan jika Mira bertanya tentang Rudi pun aku menjawabnya dengan santai.


                Aku perhatikan sikap Mira tidak berubah kepadaku. Dan sepertinya dia sudah menyadari bahwa aju sedang dekat dengan Rudi. Tapi mungkin ia belum tau bahwa Rudi adalah pacarku. Sekarang ini setelah Mira mengetahui aku dekat dengan Rudi, sikapnya memang tidak berubah. Tapi aku tidak tahu jika ia mengatahui bahwa Rudi adalah pacarku, aku tidak tahu apakah sikap akan tetap tidak berubah kepadaku.


Semoga saja seperti itu Tuhan. Begitu selalu doaku .


                Suatu hari Mira bertanya kepadaku tentang Rudi.


“Sabrina, bagaimana hubunganmu dengan Rudi?”. Tayanya .


Aku sungguh bingung akan menjawab apa. Lalu ku jawab saja begini.


“Baik Mir, kenapa?”


“oohh.. baguslah. Tidak apa-apa ko.” Jawab Mira santai.


Lalu ia pamit pergi ke kantin padaku.


“Yasudah aku ke kentin dulu ya.”


“Iyaa.” Jawabku.


Ohhh Tuhan, betapa takutnya aku tadi. Aku pikir dia akan marah dan tak menyukai hubunganku dengan Rudi. Tapi ternyata ia hanya bertanya seperti itu saja.


                Perasaanku masih belum lega. Mira masih belum benar-benar tahu hubunganku dengan Rudi. Bahkan akupun belum berkata jujur langsung kepada Mira. Tetapi kali ini aku sedikit yakin bahwa Mira tidak akan berubah kepada hanya karna masalah ini. Aku yakin Mira adalah sahabat baikku dan ia pasti akan mengerti keadaanku.


                Aku menceritakan mengenai hal ini kepada Rudi. Aku bilang bahwa Mira sekit-sedikit telah mengetahui kedekatan aku dengannya. Dan sepertinya juga Mira menerima kedekatan aku dengan Rudi.


“Sahabatku Mira, sudah mulai mengetahui hubungan kita.” Ucap ku kepada Rudi dengan seulas senyum dibibirku.


“Baguslah kalau seperti itu, lalu bagaimana sikapnya kepadamu?”. Jawab Rudi padaku.


“Sepertinya ia mau mengerti keadaan kita.” Seulas senyum kembali dari bibirku, dan dibalasnya pula seulas senyum dari bibirnya.


Aku bahagia hari ini Tuhan, terimakasih.


                Hubunganku dengan Rudi semakin baik, begitupun perasaanku kepada Mira.


Mira mendatangiku dikelas dengan senyum manisnya dan menyapaku.


“Pagi Sabrina!”.


“Pagi juga Mir, semangat sekali.” Jawabku.


“Iyaa dong, harus semangat.” Ucap Mira dengan senyum manisnya.


“Oia Sab, aku ingin berbicara penting padamu.” Lanjut Mira.


“Iya apa Mir?”. Jawabku penasaran.


“Aku sungguh merasa bersalah dan tidak enak padamu Sab, karena perkataanku sahabat baikku jadi memendam perasaanya, aku sungguh taka pa Sab jika kau memang menjalin hubungan dengan Rudi, janganlah kau fikirkan perkataanku tentang wanita yang mempunyai pacar lebih muda seperti kau dengan Rudi. Kau adalah sahabatku Sab, aku tidak akan tega kepada sahabatku sendiri, aku tidak akan menjauhimu hanya karena hal itu Sab, aku menyayangimu Sab. Maafkan aku Sabina. Maafkan aku. Sungguh aku sangat merasa bersalah kepadamu.” Jelas Mira.


Aku sangat terharu mendengar penjelasanya, sungguh akupun merasa bersalah karena tidak jujur dari awal kepadanya.


“Maafkan aku juga Mir, maafkan aku yang tak jujur padamu. Aku tidak ingin persahabatan kita rusak karena hal ini. Aku juga sangat menyayangimu Mira. Maafkan aku juga ya Mir?.” Jawabku penuh haru.


Dan akhirnyapun kami saling memaafkan dan berpelukan.


                Jujur itu sungguh sangat lebih indah dari pada kebohongan. Dan aku sungguh bahagia karena aku berhasil jujur kepada sahabatku Mira. Tidak ada yang aku sembunyikan lagi darinya. Dan kini hubunganku dengan Rudi telah disetujui oleh Mira sahabatku tersayang.