oleh Riana Afganisme pada 30 November 2010 jam 18:40
Dia, panggil saja dia Tama. Seorang mahasiswa universitas swasta islami di Jogjakarta semester awal. Yang sebagian besar hidupnya dihabiskan di dalam pondok pesantren. Yang sudah jelas tak ku ragukan lagi ilmu agamanya.
Sudah lima bulan terakhir ini kami memang “dekat”. Dekat disini bukan berarti jarak yang dekat, karena menurutku jarak Jogjakarta dan Bekasi bukanlah jarak yang dekat. Tapi komunikasi kami yang cukup dekat, walaupun kami sepakat bahwa ini bukan pacaran, karena dalam islam tidak ada istilah pacaran.
Aku akui, keberadaannya sedikit banyak mengubah cara hidupku, dalam bersikap, berbicara, bahkan beribadah. Tentunya Insya Allah ke arah yang positif. Meskipun terkadang dengan cara yang membuatku uring-uringan seperti sekarang ini, lost contact selama lima hari.
Ya, mungkin banyak orang berpendapat, “baru lima hari, udah kaya kebakaran jenggot!” tapi masalahnya, dalam lima hari ini, setiap aku menonton siaran berita di televisi, pasti topik utamanya tentang erupsi merapi yang terus memakan korban. Gimana aku gak parno coba?
Dalam kerisauan dan kegelisahan ini, aku memutuskan untuk curhat kepada teman dekatku, paling tidak untuk mengeluarkan unek-unek di dalam hatiku, syukur-syukur ia dapat memberi solusi untuk masalah ini. Ia adalah seorang ukhti teman sekelasku di SMA negeri. Setelah mendengar ceritaku, ia berinisiatif untuk menanyakan pada Tama tentang penyebab “hilang”nya dirinya melalui sms.
“Tadi aku sudah sms Tama, dia baik-baik aja kok. Dia juga sama sekali nggak berniat bikin kamu khawatir. Dia bilang ini memang sudah jadi komitmen kalian berdua untuk menjalankan hubungan ini sewajarnya, nggak berlebihan..”
“Iya sih ukhti, tapi nggak gini juga kali caranya. Liat sikon dikitlah.. paling nggak dia sms sehari sekali gitu ke aku, supaya aku tau dia itu masih hidup.”
“hush.. kamu ini! Udah, sekarang titipin aja dia ke Allah, sang penjaga seluruh isi langit dan bumi.”
Setelah ditegur, Tama memang mengikuti kemauanku. Dia sms setiap hari, tapi benar-benar hanya satu kali sehari. Itupun berisi terjemahan ayat Al-qur’an atau hadist, bukan tentang keadaannya disana.
Hingga suatu sore sepulang sekolah, aku melihat sebuah paket yang di identitas pengirimnya bertuliskan nama Tama. Sungguh bahagianya aku. Ternyata dalam “diam”nya, ia mengirimkan suatu kejutan indah bagiku. Bukan diam tanda tak peduli yang selma ini kusangkakan padanya. Astagfirullahal’adzim..
Ketika ku buka paket itu dengan irama detak jantung yang tak karu-karuan, ternyata isi dari paket itu adalah sebuah buku yang berjudul “Agar Bidadari Cemburu Padamu”, bahkan di dalam buku itu juga terdapat tanda
tangan sang penulis, yaitu Salim A. Fillah. Dari judulnya saja sudah menggelitikku untuk membacanya..
Sungguh aku merasa menjadi subjek sang penulis ketika dalam buku tersebut bertutur..
“Bagaimana dengan yang saling cinta dan berkomitmen tidak berpacaran? Pada beberapa kasus yang saya temui, tetap saja ia tumbuh tidak sehat. Apalagi jika tetap berada dalam satu lingkaran yang keterjangkauan komunikasinya tinggi. Kecuali beberapa yang sangat sedikit jumlahnya. Jebakan-jebakan syaithan terlalu rumit untuk kita pahami terlebih dahulu hingga kita punya solusi dan prevensi. Sejak zaman Adan dan Hawa, hanya kata taqwa, termasuk takwa dalam interaksi, yang bisa meredam makar syaithan.”
Aku tak tahu, apakah aku termasuk dalam pengecualian itu, yang sangat sedikit jumlahnya? Atau apakah ini termasuk hubungan yang tumbuh secara tidak sehat? Naudzubillahiminzalik..
Sungguh sekarang aku mengerti mengapa lima hari kemarin ia bisu dalam diamnya. Sungguh sekarang aku mengerti mengapa sekarang ia membatasi interaksinya denganku. Dan sungguh sekarang aku dapat menerimanya dengan keridhaan hatiku. Demi Allah..
Walaupun ku akui pada awalnya sungguh berat. Tapi Tama dengan sabar memberikan pengertian tentang keharusan kami untuk menjalankan keadaan ini. Aku masih menyimpan beberapa pesan darinya di inbox handphoneku. Pesan yang dengan membacanya aku bagaikan handphone lowbat yang di charger kembali..
“Tidak pernah ingin menyakiti..
Demi Allah..
Ini suatu keharusan.
Walau ir mata jatuh terurai,
Wakau hati menjerita gundah,
Namun yakinlah ada hikmah dibalik ini semua..”
Tergambar sudah betapa egoisnya aku hingga tak pernah tersirat sedikitpun bahwa tama juga sesungguhnya berat untuk melakukan ini semua. Tapi demi Allah.. demi menggapai ridhaNya.. dia ikhlas.
Dia tak pandang gundah hati di dunia karena yakin Allah pasti membalasnya dengan keindahan di akhirat nanti jikalau ini semua sungguh demi diriNya, demi menghindarkan makar syaithan yang terkutuk.
“Untuk Allah..
Untuk kebaikan kamu,
Untuk kebaikanku.
Hanya ingin menjaga hati
Sampai suatu saat nanti Insya Allah
Semoga Allah mempertemukan kita dalam sebaik-baiknya keadaan.
Dan merelakan dengan tulus saat engkau ditakdirkan bukan untukku.
Ya.. ini semua sangat berat,
Sulit untuk dipahami,
Tak mudah untuk dimengerti,
Namun semua ini hanya untuk mencari ridhaNya..
Ikhlaskan hati..
Demi Allah.. hanya demi Allah..”
Tak kuasa aku membendung air mata yang sedari tadi telah menggedor-gedor kelopak mataku, memaksa untuk keluar. Lalu akupun membalas pesannya..
“Maaf.. jika selama ini aku memberatkanmu dalam menjalankan keharusan ini. Tak ada niatan seperti itu, sungguh..
Dan Insya Allah sekarang aku mulai dapat mengerti dan menerima semuanya..
Demi Allah.. aku ridha..
Demi Allah.. aku ikhlas..”
Demi Allah.. aku mencintaimu karena Allah.
Karena keindaham akhlakmu,
Kerena kebagusan agamamu.
Sungguh suatu kebanggaan jika suatu saat nanti aku dapat bersanding denganmu. Namun kalaupun tidak, aku yakin Allah mempunyai rencana yang lebih indah untuk kita berdua.
Seperti kata penulis, Salim A. Fillah, kalau ada saat menanti, pastikan Allah membersamai. Biarlah masa menanti ini diisi dengan perbaikan diri, keshalihan, dan juga keikhlasan. Tanpa keikhlasan yang digantungkan pada pemilik ‘Arsyi Maha Tinggi, ia akan mati. Ia mati, persis seperti setangkai mawar yang dipotong hanya untuk dipersembahkan pada kekasih..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar