Kamis, 23 Desember 2010

woman to woman


oleh Riana Yahya Afganisme pada 22 Desember 2010 jam 17:51
Woman To Woman
Menjadi Ibu yang Sesuai dengan Ekspektasi Seorang Anak
            Ketika anak perempuan mulai beranjak dewasa, memasuki fase remaja, banyak sekali kekhawatiran dari para ibu. Khawatir apabila putrinya jatuh cinta, pacaran, lalu kebablasan. Khawatir apabila putrinya salah memilih teman dalam pergaulan. Khawatir apabila nilai akademik putrinya turun. Dan masih banyak kekhawatiran-kekhawatiran lainnya.
            Jangan kira anak-anak remaja tidak tahu akan kekhawatiran para ibunya ini. Kami tahu bu.. bahkan karena kekhawatiran ibulah muncul kata backstreet, karena kekhawatiran ibulah kami jadi pandai bersilat lidah, sebenarnya ini semua adalah upaya kami agar ibu tidak khawatir. Tapi kami tahu ini semua adalah upaya yang salah. Maka agar kondisi ini tidak berlangsung berlarut-larut.. tanpa bermaksud menggurui, kami ingin Ibu mendengar dan mengerti ekspektasi kami kepadamu Bu.. agar tak ada jarak lagi diantara kita.
Kami Sudah Besar,Bu..!
            Kami tahu Ibu rindu masa-masa ketika Ibu selalu me-nina bobokan kami sebelum kami tidur, ketika Ibu mengantar dan menunggui kami semasa kani TK dulu, ketika Ibu membersamai kami kapanpun dan dimanapun. Masa-masa itu.. kami tahu Ibu sangat menikmati masa-masa itu. Ibu tak ingin masa-masa itu cepat berlalu. Tapi seiring waktu.. putrimu yang kecil mungil itu akan tumbuh besar.
Kami sudah besar, Bu! Berikan kepercayaan itu untuk kami. Kepercayaan untuk melakukan sendiri hal-hal yang sudah dapat kami lakukan sendiri. Sekarang waktunya Ibu beristirahat, Ibu hanya perlu duduk santai mengamati kami dari kejauhan, dan sesekali mengoreksi apabila ada kesalahan. Bukan karena kami takut dipanggil “anak ibu” oleh teman-teman, toh kami memang anak Ibu dan kami bangga menjadi anak Ibu. Bukan karena itu Bu.. tapi karena kami ingin belajar arti sebuah kemandirian.
Ini Aku Bu! Bukan Ibu yang Terlahir Kembali..
            Tak dapat kami pungkiri bahwa kami terlahir bari rahimmu Ibu. Tapi itu bukan berarti bahwa segala sesuatu yang ada pada dirimu ada juga dalam diri kami, begitu juga sebaliknya. Itu bukan berarti minat kita harus sama, kegemaran, cita-cita, dan idealisme kita juga harus sama. Walau bagaimanapun kita tetap dua individu yang berbeda. Kami bukan dirimu yang terlahir kembali, Bu!
            Kami bukan boneka atau robot yang dapat Ibu atur sesuai kehendak dan kesukaan Ibu. Kami putrimu Bu.. yang punya perasaan, yang punya ego. Biarkan kami menentukan minat, kegemaran, cita-cita, dan idealisme kami sendiri dengan penuh kesadaran dan tanpa paksaan atau tekanan dari orang lain. Agar kami tidak setengah-setengah menjalani kehidupan kami. Agar kami dapat berjuang dan bertanggung jawab penuh atas keputusan yang kami ambil sendiri. Agar nanti kalaupun kami gagal, kami tidak menyalahkan Ibu atas kegagalan kami itu, karena itu adalah keputusan kami.
            Kami akan sangat menghargai nasehatmu Bu.. kami akan sangat mempertimbangkan keinginanmu. Tapi izinkanlah kami menjadi diri kami sendiri, memilih dan menentukan jalan hidup kami sendiri, diseratai dengan ridhamu bu.. karena ridhamu adalah ridhaNya..
Luangkan Waktumu dan Jadilah Sahabat Kami
            Tidak pernahkah Ibu sadari bahwa kami sangat ingin berbagi semua cerita yang telah kami lalui seharian ini kepadamu? Tapi kadang kami urungkan niat itu, keinginan yang sangat itu kami pendam dalam-dalam ketika melihat Ibu masih sibuk dengan segala urusanmu, ketika wajah Ibu yang ceria berubah menjadi muram, ketika lelah mengguratkan garis-garis keriput diwajahmu.
            Kami hanya tak ingin menambah kuota bebanmu. Mungkin akan lebih mudah bagi kami untuk berbagi kepadamu apabila Ibu mau mengetuk pintu kamar kami, lalu sambil mengelus kepala kami Ibu bertanya “Gimana sayang seharian tadi? Ada kejadian seru apa aja disekolah tadi?” lalu Ibu menjadi pendengar yang baik dengan sesekali merespon cerita kami dengan sangat excited. Dalam situasi seperti ini, engkau tidak hanya berfungsi menjadi ibu kami Bu.. tapi juga menjadi sahabat kami, sahabat untuk berbagi segala hal.
Ibu, Aku Jatuh Cinta!
            Mungkin sangat jarang diantara kami, remaja yang menceritakan tapak jejak perjalanan asmaranya kepada sang ibu. Mengapa demikian? Karena kami tahu ibu kurang suka itu, ada banyak alasan rasioanal mengapa Ibu kurang menyukai itu, walaupun Ibu tak secara lugas mengatakannya. Tapi kami dapat merasakan ketersiratan itu dalam setiap nasehat bijakmu.
Kami tidak menolak nasehatmu itu Bu, tapi kami juga tak kuasa menolak perasaan ini.. saat ketertarikan kepada lawan jenis mulai muncul, saat debar jantung ini tak karuan jika ada di dekatnya, saat salah tingkah ketika harus berinteraksi langsung dengannya.
            Aku jatuh cinta, Bu! Ingin kalimat ini terucap agar engkau tak lagi bertanya-tanya dalam hatimu, agar engkau mengerti mengapa putrimu akhir-akhir ini terlihat berseri lain dari biasanya, menyenandungkan lagu cinta di setiap kesempatan, atau sebaliknya, bermata sembab dengan wajah ditekuk, mengurung diri dikamar seharian. Tapi kami takut Ibu marah..
            Andai Ibu mau memahami.. tak menginginkan kami melenyapkan rasa ini, tapi berbagi bagaimana cara me-manage rasa ini diusia kami yang dalam fase pencarian jati diri ini.
Andai kita dapat berbicara dari hati ke hati. Kami dapat menceritakan semua rasa ini kepadamu dan meminta nasehatmu sebagai yang lebih berpengalaman tentang hal ini, agar kami tak salah melangkah, agar kami tak terbuai oleh indahnya cinta yang hanya sesaat ini.. karena kami tahu cintamulah Ibu yang abadi.. hanya memberi tak harap kembali..


Woman To Woman
Menjadi anak yang Sesuai dengan Ekspektasi Seorang Ibu
            Jangan sekali-kali mengaki bahwa kamu tidak mengetahui bagaimana ekspektasi ibumu terhadap dirimu. Jujur sajalah sebaiknya.. kamu tahu itu kan? Bagaimana harapan ibumu tentang dirimu. Kalau kamu jawab tidak, berarti ada dua kemungkinan. Yang pertama kamu berbohong, dan yang kedua kamu memang tidak mau tahu ada harapan ibumu terhadap dirimu. Kamu tidak pernah mencoba untuk membuka mata, telinga, dan hatimu untuk memahami harapan besar seorang ibu yang telah bersusah payah melahirkanmu ke dunia ini. Kalau sudah begitu, coba tanya saja kepada dirimu sendiri ”Anak macam apa aku ini?”
Merespon Harapan Ibu
Mari kita berpositive thinking bahwa setiap ibu pasti ingin yang terbaik untuk anaknya. Harapan-harapan besar itu pasti agar ia di hari tuanya nanti dapat melihat anak-anak yang sangat disayanginya itu bahagia. Jadi, selama ada tenaga dan kemampuan kita untuk mewujudkan harapan itu, wujudkanlah.. karena saya juga yakin setiap anak menginginkan ibunya bahagia. Apalagi apabila penyebab kebahagiaan itu adalah dirinya sendiri.
Tapi apabila kamu tidak dapat mewujudkannya, baik itu karena keterbatasan yang kamu miliki atau karena perbedaan pendapat antara kamu dan ibumu hingga harapan ibumu itu tak sesuai dengan harapan pribadimu, maka cobalah bicarakan pelan-pelan dengan ibumu perihal ini. Bicarakan dari hati ke hati, agar ia dapat mengerti.
Ketahuilah, ada banyak cara lain untuk membahagiakan ibumu, walaupun kau belum atau tidak bisa memenuhi harapannya. Berusahalah menjadi yang terbaik dalam segala hal, agar ibumu menjadi bangga
kepadamu.
Waktu Spesial untuk Ibu
            Biasanya pada masa-masa remaja banyak sekali aktifitas yang ingin kita lakukan. Misalnya hang out bareng temen, aktif dalam berbagai organisasi atau ekstrakurikuler. Semua kegiatan ini menuntut kita untuk pintar me-manage waktu. Tapi jangan sampai terlewat untuk menyisihkan waktu spesial untuk ibu. Dalam waktu spesial itu kita dapat melakukan apa saja, sekedar sharing, bercanda, nonton TV bereng, shoping, atau belajar masak. Apapun. Banyak sekali hal yang dapat kamu lakukan dengannya. Ciptakanlah quality timemu dengannya!
Jadikan Ia Buku Harianmu
Apabila ada yang betanya siapa orang yang paling lama menghabiskan waktunya bersamamu? Mungkin jawabannya adalah ibumu. Bahkan ibu kita telah mencuri start duluan selama sembilan bulan. Seharusnya jawaban itu juga telah menjawab pertanyaan lain seperti siapa orang yang paling memahami karakter aslimu? Walaupun mungkin karakter kita berkembang sesuai dengan usia kita, tetapi karakter asli kita yang dibawa sejak lahir itu pasti akan tetap membekas.
            Maka tak perlu lagi bersusah payah mencari orang yang paling memahamimu. Ibumulah jawabannya. Ibumu yang mengenalmu sebelum kamu lahir, pastilah lebih memahamimu dibandingkan orang lain. Asalkan engkau menjadikannya sebagai buku harianmu. Ceritakanlah kepadanya kebahagiaanmu, kekecewaanmu, harapanmu, kegagalanmu, segalanya. Tak perlu sungkan, karena Ia adalah ibumu yang pasti dapat menerimamu apa adanya dengan segala kekurangan dan keterbatasanmu. Tak seperti orang lain yang mungkin akan menjauh atau menjaga jarak denganmu ketika Ia mengetahui keburukan atau kekuranganmu. Tapi ibumu berbeda, Ia pasti akan membuka lebar lengannya lalu memelukmu dengan erat..
Jangan Membuatnya Khawatir
Pernahkah kamu berkata kepada ibumu  “Udah, Ibu ga usah khawatir!” ? Sebenarnya mustahil seorang ibu tidak khawatir kepada anaknya, ketika Ia tak dapat mendampingi buah hatinya itu. Kekhawatiran itu pasti ada, tapi presentasenya yang berbeda.
Coba kita bandingkan saja dua remaja putri yang telat pulang ke rumah. Remaja yang pertama, sebelumnya sudah memberi tahu ibunya bahwa Ia akan pulang telat, sedangkan remaja yang kedua belum. Tentu kita sudah dapat mengetahui, ibu mana yang presentase kekhawatirannya lebih besar? Ya, tentu ibu dari remaja yang kedua. Karena sekarang Ia tak tahu anaknya sedang berada dimana? dalam kondisi seperti apa? Apa yang sedang dilakukannya? Akan ada banyak tanda tanya dihati para ibu yang membuat presentase kekhawatirannya bertambah besar.
Jadi, mulai sekarang cobalah berusaha untuk meminimalisir presentase kekhawatiran ibumu. Agar Ia dapat menjalani hari-harinya dengan tenang, tanpa harus was-was lagi. Bagaimana caranya? Saya kira kamu yang lebih mengerti, karena beliau adalah ibumu. Kalau saya sih biasanya memberi tahu jadwal harian saya kepada ibu saya, dan apabila ada perubahan atau tambahan acara, saya akan menginformasikannya kepadanya.
Stabilitas atau Peningkatan Nilai Akademik
Tahu kenapa alasan para ibu melarang putrinya untuk pacaran? Kenapa alasan para ibu menginginkan putrinya hanya berteman dengan anak baik-baik saja? Kenapa alasan para ibu menyuruh putrinya untuk belajar setiap malam? Ini salah satu alasannya, karena Ia menginginkan peningkatan nilai akademik putrinya disekolah, atau minimal stabil lah, tapi jangan sampai turun apalagi anjlok.
Ibu hanya khawatir dilema-dilema yang dialami oleh remaja pada umumnya itu terjadi pada anaknya, dan menyebabkan kemerosotan dan anjloknya nilai akdemik putrinya. Maka dari itu sangat wajar apabila Ia memberlakukan beberapa aturan main kepada putrinya. Selama peraturan itu masih dalam batas kewajaran dan untuk memperbaiki dirimu, just enjoy it! Ingat, berpositive thinkinglah pada ibumu!
Walau bagaimanapun kita ini masih remaja berstatus pelajar yang tugas utamanya adalah belajar. Dan mau tak mau, suka tak suka, takaran kesuksesan kita sebagai pelajar adalah nilai akademik yang bagus. Saya kira tidak akan jadi masalah apabila kita pacaran, berteman dengan siapa saja, bahkan tidak belajar rutin setiap malam, <span>asalkan</span> (saya kira penting untuk mem-bold dan memberi underline pada kata ini) kita dapat menjamin bahwa nilai akademik kita tidak akan mengecewakan (eits, tapi bukan dengan cara curang loh!). Tapi saya rasa itu akan menjadi sangat sulit..
Sebagai penutup, marilah kita bernostalgia mengingat penggalan syair lagu yang pernah dinyanyikan oleh sherina, Andai Aku Besar Nanti..

Andai usiaku berubah
Kubalas cintamu bunda
Pelitaku, penerang jiwaku
Dalam setiap waktu


Oh... Kutahu kau berharap dalam doamu
Kutahu kau berjaga dalam langkahku
Kutahu s'lalu cinta dalam senyummu
Oh Tuhan, Kau kupinta bahagiakan mereka sepertiku

Andai aku t'lah dewasa
Ingin aku persembahkan
Semurni cintamu, setulus kasih sayangmu
Kau s'lalu kucinta


By: Riana

Tidak ada komentar:

Posting Komentar