oleh Riana Yahya Afganisme pada 25 Desember 2010 jam 11:35
“Selamat siang Bapak dan Ibu, menemani perjalanan anda ke tempat tujuan, izinkan saya melantunkan sebuah lagu dari Muse berjudul Unintended. Semoga dapat menghibur kalian semua..”
Suara Oka mengalun indah diiringi petik gitarnya. Sementara di sudut bis, dua mahasiswi sedang menjadikan Oka sebagai objek pembicaraan mereka.
“Keren banget ya pengamen jaman sekarang?! Ngamen aja pake lagu bahasa Inggris.” Celetuk Dona.
“Ya elah Don, sekarang kan di kaki lima juga udah banyak kaset barat bajakan. Lagian juga sepinter-pinternya pengamen, paling lulusan SD!” Timbal Reva.
“Eh, tapi kalo diliat-liat, dia lumayan juga ya? Auranya tuh beda.. berwibawa, berpendidikan..”
“Ih.. Dona! Sadar dong! Level kita tuh beda jauh sama dia. Nih ya gue bilangin, kalo mau ngincer tuh asdos, bukan pengamen kaya dia! Dan seharusnya juga cewek selevel kita gak pantes naik bis umum kaya gini!”
Ini memang kali pertama Reva dan Dona naik bis umum. Mobil yang mereka tumpangi bocor di tengah jalan, dan apesnya lagi semua tukang taksi sedang berdemo di Senayan. Jadi tak ada opsi lain bagi mereka selain naik bis umum.
“Tadi kan gue udah bayar ongkosnya. Ngapain lo ngeluarin 20ribuan lagi?” tanya Reva.
“Buat ngasih pengamen itu”
“Misi Mbak.. mohon sedekah seikhlasnya untuk menyambung hidup kami.” Oka menghampiri mereka.
“Ini mas.. eh, ngomong-ngomong boleh tau gak namanya siapa?”
“Nama saya Oka Mbak.. makasih banyak ya Mbak! kalo nama mbak ini Reva sama Dona ya?”
“Hah, ko kamu tau?” Reva dan Dona kompak bertanya.
“Obrolan Mbak berdua dari tadi tuh kedengeran sampe bangku supir! Saran saya ya Mbak.. jangan terlalu menganggap remeh pengamen dan orang-orang kecil seperti saya.”
Belum sempat Reva dan Dona meminta maaf, Oka sudah turun dari bis yang mereka tumpangi.
“Emang kita ngobrolnya kekencengan ya?” tanya Reva berbisik.
Mereka berdua tak sadar bahwa seisi bis yang mayoritas pria itu telah menyimak pembicaraan mereka sejak awal.
***
“Eh, Reva.. itu bukannya Oka yang kemarin ngamen di bis?”
“Iya.. iya.. ngapain tuh anak di kelas kita?” Mereka berdua keheranan, mengapa pengamen seperti Oka bisa masuk kampus elite ini.
“Baik, karena Pak Robert dosen yang seharusnya mengajar kalian berhalangan hadir, maka saya diminta oleh Beliau untuk menggantikannya kali ini. Perkenalkan nama saya Oka Antoni. Saya masih kuliah semester IV.” Jelas Oka kepada seluruh mahasiswa di kelas.
“Maaf apabila masih banyak kekurangan, karena ini adalah kali pertama saya menjadi asisten dosen. Biasanya pekerjaan saya adalah pekerjaan yang dipandang sebelah mata oleh sebagian banyak orang, yaitu mengamen. Tapi menurut saya, mengamen bukanlah pekerjaan yang hina, karena mengamen juga termasuk pekerjaan yang halal, sama saja seperti asdos.” lanjut Oka.
“Tapi gimana bisa seorang pengamen kaya kamu jadi asdos?” Reva masih tak percaya.
“Dari SD samapi SMA saya dibiayai oleh seorang dermawan, dan saya dapat masuk kampus ini lewat jalur beasiswa pelajar berprestasi.”
Oka kemudian berjalan menghampiri Reva, lalu berbisik, “Sekarang saya udah bisa dong jadi kriteria pria inceran kamu?” goda Oka.
“Maaf ya ka.. aku tarik semua omongan aku di bis waktu itu.” Wajah Reva memerah.
“Belajarlah untuk menghargai orang lain, siapapun mereka dan bagaimanapun status sosial mereka.” Nasehat Oka.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar