post by rizkiana zahra
Aku menerawang seuntai masa, dimana aku bisa melihat aku dan dia bertemu. Dari pertemuan itu, aku merasa ada hal yang berbeda yang ada pada diri nya. Entah apa itu. Saat aku mulai menyelami dirinya, aku terjebak ditengah-tengah sebuah ruangan hampa. Aku tersesat! Dan aku terperosok dalam sebuah sumur yang memalukan, aku terperosok jauh kedalamnya. Hingga air mata ini tak bisa aku bendung terlalu lama. Karena kesalahan yang aku buat. Aku membuat malu diri ku sendiri. Ditimpa dengan acuhannya yang menampar keras batin ku. Sungguh menyedihkan.
Tak bisa meronta, hanya bisa diam. Hanya bisa menangis melihat dia yang semakin jauh meninggalkan aku. Aku mengambil nafas dalam-dalam kemudian kubuka mata ini, dan semua kembali seperti biasa. Tapi hati ini semakin sakit karena galau akan semua rasa yang tercampur dalam dada. Aku sakit, tapi merindukannya. Ya aku merindukan sesosok yang dingin tapi terkadang lembut. Ya, aku merindukan dia. Dia yang bernama Muhammad Rivan Maulana. Yang dulu berada di kelas unggulan dan sekarang sudah menuju Perguruan Tinggi di daerah Bandung. Bagi ku tak ada kata buat nya. Karena dia terlalu indah di mata ku. Mungkin hanya dimata ku.
“Nid, Nida??” Aya berhasil membuatku terkejut untuk ke umhhh, tak terhitung. Bagi nya membuat orang terkejut adalah suatu hobi yang sangat menyenangkan. Dia hanya tertawa, memperlihatkan gigi putih nan rapih nya.
“Angga nyari kamu.” Dia tersenyum lebih lebar.
Aku mendesah dan mulai mengambil langkah. Diikuti oleh Aya yang masih tersenyum lebar itu aku digiring menuju kelas 12 IPA 1. Dan aku melihat dia, bukan, bukan Rivan tapi dimata ku sekarang dia itu adalah pacar ku, Angga. Dia ketua tim basket di sekolah ini. Dengan tubuhnya yang besar, kulitnya yang coklat(lebih dari coklat bisa dibilang.) menandakan bahwa dia pantas menjadi ketua tim basket A Putra. Sudah sebulan aku menjalani hubungan tak jelas ini dengannya. Jujur saja, tak ada sedikitpun rasa cinta yang aku berikan sebagai pacar untuknya. Tapi kalau ditanya sayang, sebagai sahabat aku sayang dengannya.
Kemarin malam aku sudah memutuskannya, alasannya sepele. Ingin serius belajar. Tapi selain itu, aku kasihan dengannya karena hati ini bukan untuknya. Melainkan untuk Rivan. Dia memanggilku, mungkin tak terima atas perlakuan ku tadi malam.
“Kenapa kamu mutusin aku?” Tanya nya. Matanya benar-benar menatap lurus pada mata ku. Tandanya dia serius. Aku memalingkan pandangan ku, mencoba mencari jawaban. Tapi disanggah oleh tangannya. “ Aku punya cita-cita ga. Dan aku gak mau buat kedua orang tua ku kecewa. Aku punya masa depan yang harus aku rajut dari sekarang. Begitu juga kamu ga.”. Dia menanggapinya dengan senyum terpaksa.
“Masa depan, masa depan, dan masa depan. Sejak kapan kamu berfikir semua ini Nid? Setahu aku kamu gak pernah nyebutin ini semua waktu kelas 2.” Aku menatapnya lekat-lekat. “Sejak aku berdiri di kelas ini, sejak aku jadian sama kamu dan sejak aku.. sejak aku ingin merubah semuanya..” Dia mendesah kencang. Untungnya desahannya itu tidak membuat badai kecil di kelas.
“Ok, aku ngerti. Maaf kalau tadi aku ngomong sembarangan. Aku percaya. Makasih buat semuanya selama sebulan ini Nid.” Dia mengulurkan tangan kanannya. “ Satu tahun yang lalu gak kamu itung? Jadi kamu gak nganggep aku sahabat kamu? Jadi selama satu tahun itu kamu ngebohongin aku? heh, gak bisa dipercaya.”
Aku membuatnya cape dengan tingkah ku. Dia berkacak pinggang. Dan tangannya mulai bermain, dia mencubit hidungku dengan keras sambil tertawa. “ Nida, aku juga butuh jeda buat ngelanjutin omongan aku. Kamu sahabat aku dan selamanya akan seperti itu.” Dia pun pergi berlalu, menabrak pintu keras. Entah disengaja atau tidak. Aku anggap ini berakhir.
Esoknya, aku diajak Aria pergi menonton basket di sekolah. Katanya Tim Putra SMA Garuda mengajak bertanding SMA ku. Entah kenapa aku merasa yakin kalau SMA ku akan menang. Aria terlalu bersemangat, dia membawa banyak perlengkapan untuk menyeport Tim Putra SMA kami. Dibangku penonton gerombolan ELF lah yang paling heboh. ELF dalam bahasa Jerman artinya 11. 11 orang itu diantaranya : aku, Aria, Aya, Mitha, Sarah, Rendy, Firda, Dea, Tammy, Ria, dan Gheis.
Skor sementara adalah 15-10 SMA ku unggul dibabak pertama ini. Aku melihat Angga begitu serius bermainnya, baru kali ini aku melihatnya seserius itu. Walaupun pertandingan persahabatan dia benar-benar sungguh-sungguh bermainnya, tak ingin membuat SMA nya dipermalukan. Saat aku sedang memperhatikan seluruh penonton, hati ku ngilu. Badan ku tiba-tiba gemetar. Disebrang bangku ku nun jauh disana aku melihat Rivan beserta alumni lainnya. Aku mencoba memastikannya, dan aku benar. Ya itu Rivan . Dia juga melihat ku, dan langsung memalingkan muka dan bergegas pergi dari tempat duduknya itu menuju tempat duduk yang tak terlihat oleh ku. Sebegitu menjijikannya kah aku hingga dia tak ingin melihat ku? Tammy yang memperhatikan ku dari tadi kemudian menanyakan apa yang terjadi. Wajah ku menjadi pucat katanya. Yang lainnya terpancing oleh teguran Tammy. Mereka khawatir, dan menyuruhku pulang. Aku heran, sebegitu besarnya imbas dari keacuhan Rivan pada ku. Aria dengan memaksa menyuruh ku pulang, ternyata dia tahu kalau ada Rivan disana. Tapi dia mencoba untuk bungkam karena takut aku menjadi seperti ini, malah dia takut kalau aku lebih dari ini.
Aria, Mitha dan Gheis mengantarkanku ke kantin. Aku menolak untuk pulang, karena aku sudah cukup bosan terkurung dalam kamar dan juga lelah mendengar ocehan Mama karena aku tak mau menuruti perintahnya untuk minum obat. Bayangkan saja setiap 2 jam sekali aku harus meminum obat itu sebelum dan sesudah makan. Mengingat rasanya saja aku sudah ingin muntah.
Aku kira pergi keluar membuat aku jauh dari obat yang superduperdahsyat pahitnya. Mencium baunya saja aku tak tahan. Bagi ku obat itu adalah racun. Menjijikan. Kalian tahu, Mama ku sudah mengantisipasi aku akan seperti ini, sehingga Mama menitipkan obatnya pada Aria yang tadi menjemputku ke rumah. Pantas saja, dari tadi mereka serius berbincang-bincang di luar rumah.
Aku kira pergi keluar membuat aku jauh dari obat yang superduperdahsyat pahitnya. Mencium baunya saja aku tak tahan. Bagi ku obat itu adalah racun. Menjijikan. Kalian tahu, Mama ku sudah mengantisipasi aku akan seperti ini, sehingga Mama menitipkan obatnya pada Aria yang tadi menjemputku ke rumah. Pantas saja, dari tadi mereka serius berbincang-bincang di luar rumah.
Aria memaksa aku untuk meminumnya atau dia akan memasukan secara paksa obat itu ke mulut ku. Anggota ELF datang untuk membantu Aria untuk memaksa ku minum obat menjijikan itu. Aku di kepung! Uh, menyebalkan! Aku kalah, dan meminum obat itu bulat-bulat. Tanpa basa-basi dan tanpa di rasa-rasa juga tanpa di hirup bau nya.. Dan aku langsung meneguk 3 Aqua gelas. Mereka terenyum amat puas. Setelah itu mereka mengajakku menonton basket lagi. Mereka pergi duluan menuju bangku penonton. Aku pergi ke toilet dulu karena masih mual dengan obat itu.
Saat aku keluar dari toilet. Aku tercengang melihat 2 orang yang aku rasa wajah nya sangat familier. Mereka berdiri dikantin, penuh dengan suasana romantis. Sungguh, aku benar-benar syok. Baru kemarin aku putus dengan dia begitu cepatnya dia menarik hati perempuan lain. Perempuan itu tidak lain adalah teman ku sendiri. Sheila namanya. Aku benar-benar salut dengan Angga. Aku meninggalkan mereka. Langkah ku gontai, tak pasti. Pandangan ku mulai kabur lagi dan dada ku sakit. Penyakit ini mengapa selalu kambuh disaat-saat seperti ini?
“ Nidaaaa..!!” Ada yang meneriakkan nama ku. Siapa? Entahlah, pandangan ku sudah menjadi gelap.
Kenapa? kenapa aku begitu menjijikan dihadapan mu? Kenapa tak ada seulas senyum dibibir mu untuk ku? Sebegitu buruknya kah sikap ku? Tak pernah sedikitpun senyum, sapa, dan tawa yang kulihat dari mu. Tahukah kamu, bagi ku seulas senyum adalah tanda bahwa aku dianggap ada dalam kehidupanmu. Sapaan itu adalah tanda bahwa kau memaafkan ku. Dan tawa, adalah tanda bahwa semua kejadian itu terlupakan oleh mu. Tapi sudahlah, semua itu sia-sia. Kini, aku hanya menginginkan senyum itu saja. Tak lebih yang ku inginkan dari mu.
Mata ini begitu berat untuk aku buka. Tak ada cahaya. Gelap. Tapi aku mendengar isak tangis mama. Dimana? Ada apa dengan diri ku? Sudah mati kah aku? Tapi kenapa aku masih bisa mendengar luapan tangis mereka. Dari tangan ku ada terasa kehangatan, bukan tangan mama yang kurasakan. Tangan siapa? Air mata siapa yang menetes ditangan ku? Ya Allah, bukalah mata ini. Aku masih ingin menghirup udara di Bumi ini.
Aku mulai merasakan kehadiran cahaya, tapi cahaya itu tak begitu jelas. Akhirnya aku bisa melihat mereka, tapi samar-samar. Nafasku juga tak beraturan. Begitu beratnya aku mengambil sang oksigen untuk ku hirup. Aku melihat kesamping dengan sulit. Aku tercengang melihat laki-laki dihadapanku sekarang. Begitu takjub. Seperti mimpi. Dari pelupuk mata ku terpancarlah sebuah kebahagiaan yang tak bisa kubendung. Air mata ku mengalir, aku menangis dramatis hingga nafasku menjadi tambah sesak. Apa kalian tahu? Siapakah sosok lelaki yang berada disebelah ku? Kalian tahu dia memberikan senyuman yang hangat untuk pertama kalinya. Dan aku baru melihat isakkan tangisnya. Matanya sayu melihatku. Kalian tahu dia adalah Rivan. Dia menggenggam tangan ku erat. Dia menepis air matanya yang tak kunjung hentinya. Dan berkata:
“ Semua kebodohan mu itu membuatku menggila. Karena ucapan bodoh mu itu, aku jadi terus mengingatmu. Aku bingung untuk memberi respon apa kalau tiba-tiba aku melihat kamu sedang memperhatikan aku. Puisi yang kamu buat gak aku buang. Yang aku buang waktu itu kertas ulangan yang nilainya amat teramat sangat buruk. Disaat itu pula kamu lihat aku, maaf aku menampakkan wajah jengkel. Karena aku jengkel banget dengan nilai itu. Dan maaf tadi aku memalingkan wajah ku. Karena aku malu gimana aku harus merespon pandangan kamu.
Aku gak nyangka kalau kamu begitu yakin mengatakan hal bodoh itu dihadapan semua orang. Aku kira kamu cuman mau membuatku malu makanya aku pergi dengan muka kesal. Aku hargai semuanya. Kamu juga bagaikan butiran-butiran embun yang tiap pagi mendinginkan kegundahan hati ku yang setiap hari disiksa oleh pahitnya sepi. Kini, aku jadikan dirimu sebagai serbuk-serbuk kenangan yang akan selalu membuat ketenangan hati ini.” Aku tak kuasa mendengar bait puisi buatan ku yang kubacakan saat acara perpisahan waktu itu. Hati ku tersentak mendengarnya, dia hapal. Air mata ku semakin deras. Dan nafas ku semakin sesak.
“ Nid, ini ada bunga dari Angga. Dia gak bisa datang. Pertandingannya belum selesai. Dia minta maaf terus aku juga….” Sheila ingin melanjutkan permohonan maafnya itu. Tapi, batas waktu ku sudah habis. Sudah tak kurasakan lagi sang oksigen itu. Aku menangis. Muka mereka begitu khawatir. Tangan Rivan begitu erat menggenggem tangan ku. Mama keluar memanggil dokter. Dada ku semakin sesak. Dokter datang tapi telat, nafas ku telah habis dilahap sang maut.
***
“ Nida, jangan lupa kamu harus minum obat ini 2 jam sekali. Sebelum dan sesudah makan. Awas kalau gak dimakan ya. Tahu akibatnya nanti.”
Aku mengangguk-angguk. Banyak sekali obat yang harus ku minum. Apa penyakit ku sangat parah? Apakah asma bisa merenggut nyawa seseorang?
“ Apa dok, bukan asma? Lalu, penyakit apa yang ada didalam tubuh anak saya?!” Suara Mama parau. Mama menangis. Aku diam-diam mendengarkan pembicaraan mama dengan dokter di telepon. Mama menutup mulutnya dan tangisannya semakin meluap.
“ Paru-paru basah dok? Apa bisa berdampak pada kematian?” Mimik muka Mama semakin menegang setelah mama membicarakan kematian. aku bingung. Ada apa dengan aku?
Setelah Mama menutup teleponnya, dan menghampiri Papa yang baru saja datang dari kantor. Mama berkata: “ Anak kita, Gak punya waktu yang banyak, Pah.” Papa bingung, “ Anak kita cuman punya waktu sedikit Pah. Dia bukan asma tapi paru-paru basah yang sudah parah dan gak bisa ditolong lagi.” Papa terperanjat, jaketnya jatuh. Badannya menjadi loyo. Aku yang menjadi bahan pembicaraan mereka tercengang. Waktu ku hanya sebentar. Aku putus asa. Aku menelepon Aria, dia terkejut bukan kepalang tapi dia mencoba menenangkan hati ku.
“ Nida, umur itu Allah yang ngatur. Bukan dokter, peramal atau siapapun. Jadi semangat, chayoo Nid! Selagi kamu bisa bernafas ayo rajut dari sekarang impianmu.Aku, dan rekan ELF yang lainnya bakal dukung kamu.” Aku terpana mendengar kata-kata Aria. Dan hari-hari ku penuh semangat lagi, hingga aku menemukan beberapa butir kenangan yang terpancar oleh seorang laki-laki yang bernama Rivan.
“Entah kapan aku begitu merasa berdebar-debar
saat hanya melihat siluet mu yang masih jauh.
Entah kapan aku menjadi sering memperhatikanmu.
Padahal aku tak tahu siapa dirimu.
Hilir mudik tentang mu membuat hatiku geli
dan diri ini semakin terperosok jauh
dalam sebuah terowongan.
Semakin jauh aku melangkah semakin berdebar-debar pula
hati ini.
Kau bagaikan butiran-butiran embun
yang tiap pagi mendinginkan kegundahan hati ku
yang setiap hari disiksa oleh pahitnya sepi.
Kini, aku jadikan dirimu sebagai serbuk-serbuk kenangan
yang akan selalu membuat ketenangan hatiku.”
Terima Kasih atas kehadiran mu Rivan. Tak akan pernah ku lepaskan serbuk-serbuk yang ku genggam ini. Ingatlah, dimanpun kau berada aku akan menemanimu dengan meniupkan butir-butir kenangan yang akan selalu mengahangatkan hatimu. Walaupun tanganku sudah tak bisa kau genggam, nafas ku tak bisa kau rasakan, tapi hadirku akan selalu kau puja karena aku selipkan setiap serbuk nya dalam langkahmu. Kuingin kau tahu meskipun ku jauh kau tetap sebagian dari semua butir kisah ku. Kenanglah itu wahai cinta ku.
Created by_kirha_kiat_chun.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar